Posts

Showing posts from June, 2010

Tanda Cinta Tuhan Padaku

--> Tanda Cinta Tuhan Padaku Kata orang, dunia itu indah.. Kata temanku, bermain petak umpet itu menyenangkan.. Kata kakakku, pelangi itu berwarna-warni.. Kata ibuku, matahari lah yang menjadi penerang di bumi.. Kata ayahku, taburan bintang dan rembulan yang membuat malam semakin syahdu.. Namun aku hanya mampu mendengar kata mereka.. Sejenak ku merenung, mengapa Tuhan tak memberiku kesempatan mengintip dunia-Nya yang indah.. Aku tidak dapat melihat.. Duniaku gelap.. Hampa.. Sunyi.. Sendiri.. Jangankan membayangkan dunia, aku sendiri tak mampu membayangkan diriku.. Ku raba dunia dengan jari kecilku.. Ku dengar hilir angin yang menusuk jantungku.. Dalam lamun ku, kusadari, mungkin ini adalah bukti cinta Tuhan padaku.. Karna tak semua orang diberikan tanda cinta seperti yang Tuhan berikan padaku..

Sadarkah mereka?

Sadarkah mereka? Sadarkah mereka atas apa yang mereka lakukan? Sadarkah mereka apa yang mereka katakan? Sungguh ironis, mereka berteriak “banjir”.. Mereka berebut beradu kata.. Mereka berteriak “Kami butuh air” Tetapi mereka yang memubazirkan air.. Mereka berteriak “Panas” Tetapi mereka yang menciptakan panas.. Sungguh lucu.. Mereka marah.. Mereka menghujat.. Tetapi mereka tidak sadar, siapa sebenarnya yang mereka hujat? Mereka yang menciptakan tetapi mereka yang menggunjing.. Tak sadarkah mereka, Indonesia ini begitu indah.. Namun kita terlalu terbuai.. Luasnya sungai maka leluasa pula kita membuang sampah.. Aku takut Tuhan murka.. Maafkan aku Tuhan.. Maafkan mereka Tuhan..

Jangan Pernah Berpaling, Sayang

Jangan Pernah Berpaling, Sayang Kupijakkan langkahku diatas hempasan pasir berirama dendangan cinta kasihmu . . Ku rentangkan tanganku seluas ku mampu, tuk mendekapmu agar tak pernah lagi kau menghilang dari dekapku . . Meski duka sempat menari-nari diatas lukaku, dan perihku akan dirimu sungguh menyayat batinku . . Hingga sempat berfikir untuk berhenti pada langkahku . . Namun, jauh disudut gelap hatiku . . Aku yakin akan harapku padamu . . Harap akan dirimu yang selama ini kukenal . . Harap akan kasih yang kau berikan padaku . . Dan harapku akan hatimu yang pernah kau titipkan padaku . .

D.I.A.M.

D.I.A.M. Rinduku berpuncak padamu . . Kau hadir dalam angan dan mimpiku . . Kau menyita semua pandangku . . Namun kau tetap saja terdiam . . Diam membisu tanpa makna . . Diammu membuatku terpana . . Diammu membuatku terpesona . . Diammu membuatku bertanya . . Ada apa denganmu dirimu ? ? Marahkah ? Senangkah ? Atau Kau benar-benar bisu ?

Derita Sang Merah Putih

Derita Sang Merah Putih Dibawah sangsaka merah putih ku terlelap dalam tangisan sang pertiwi.. Beribu teknologi berkembang tapi mengapa sang pertiwi tak henti menitikkan air mata ? Mengalir bagai aluran banjir dipelosok negri dan meluap seperti lumpur Sidoarjo yang meluas.. Lantas ??? Bagaimana Indonesia ku kelak ? Apa masih akan ada bencana alam ? Apa masih banyak jeritan-jeritan tunas bangsa karna kelaparan? Apa ladang-ladang harus habis digerogoti tikus layaknya para koruptor di Dewan Rakyat ? Lantas, apa yang harus kuberikan ? Apa aku harus jaga DPR ? Agar ku tangkap sendiri sang tikus negara.. Atau haruskah aku menjadi presiden ? Tuhan . . . Aku tak tau, dan hanya dirimu yang tau Aku hanya mampu bersujud kepadamu, mohon ampun dan mohon pertolonganmu Untuk Indonesia yang lebih “merdeka” !

Apel

Apel             Siapa sih yang gak tau apel??? Apel adalah buah yang paling popular dibanding buah-buah lainnya. Sangat besar kandungan nutrisi seperti: karbohidrat, pectin, vitamnin A, vitamin C, kalsium dan besi. Kandungan pectin terkenal sebagai antikolesterol dimana menyerap kelebihan air di dalam usus, memperlunak feses, dan memperbaiki otot pencernaan. Vitamin A yang ada di dalam apel berfungsi untuk menyembuhkan influenza, berkhasiat juga untuk menjaga kesehatan mata, dan mencegah kebutaan. Vitamin C penting untuk mempertahankan kesehatan urat syaraf, serta pembentukan tulang dan gigi.             Dapat mengontrol keluarnya insulin sehingga tidak berlebihan. Mengkonsumsi apel secara teratur dapat menjaga keseimbangan gula darah, menurunkan tekanan dan kolesterol darah. Sebuah apel memiliki kalori sebesar 47 Kcal.             Traditional apel biasa digunakan untuk mengobati sakit perut. Apel yang di parut di campur dengan sedikit madu sanga

Mendidik Anak dengan Ketidakmampuan Belajar

          Individuals with Disabilities Educatian Act (IDEA) tahun 1975 (diamandemen pada 1997) memastikan pendidikan public yang tepat dan gratis bagi semua anak dengan ketidakmampuan di Amerika Serikat. Program pengindividualisasi harus didesain untuk tiap anak, dengan keterlibatan orang tua. Anak harus dididik dalam “lingkungan longgat” yang sesuai dengan kebutuhan mereka; dan itu berarti termasuk ruang kelas regular, jika dimungkinkan.           Banyak murid dengan kategori ini dapat dilayani dengan program “inkubasi”, dimana mereka diintegrasikan sepanjang hari dengan anak normal. Inkubasi dapat membantu anak dengan ketidakmampuan untuk berdiri sendiri dalam masyarakat dan dapat membuat anak-anak normal mengetahui dan memahami orang-orang dengan ketidakmampuan. Jika, program ini berjalan dengan baik dan sukses maka dapat saling menguntungkan, baik untuk anak dengan ketidakmampuan maupun anak normal.           Masalah potensial dengan

Penanganan ADHD

Penanganan ADHD           ADHD sering ditangani dengan obat, terkadang dikombinasikan dengan terapi perilaku, konseling, pelatihan keterampilan sosial, dan penempatan ruang kelas khusus. Dalam jangka pendek, psikotropik stimulan seperti methylphenidate (“Ritalin”), yang digunakan dalam dosis yang tepat tampaknya aman dan efektif, akan tetapi dampak jangja panjangnya tidak diketahui. Sebuah studi selama 14 bulan yang dilakukan secara acak terhadap 579 anak ADHD usia tujuh sampai sembilan tahun menemukan program perawatan dengan Ritalin yang dimonotor secara hati-hati, baik berdiri sendiri atau dikombinasikan dengan modifikasi perilaku, lebih efektif dibandingkan dengan terapi perilaku saja atau perawatan komunitas standar. Obat lebih baru yang disebut atomoxetine tampaknya juga aman dan efektif bagi ADHD.           Tren yang cukup mengganggu adalah meningkatnya penggunaan obat-obatan sepereti Ritalin terhadap anak prasekolah, walaupun efektifita

Penyebab ADHD

Penyebab ADHD ADHD mempunyai basis genetik, dengan tingkat faktor keturunan mendekati 80%. Salah satu gen yang berkaitan dengan ADHD juga berkaitan dengan pencarian terhadap yang baru, yaitu perilaku yang pernah membantu manusia beradaptasi terhadap lingkungan yang beruah secara cepat. Keunggulan evolusionaris ini mungkin menjelaskan mengapa gangguan tersebut menjadi umum.           Komplikasi kelahiran juga mungkin memainkan peran. Termasuk di dalamnya prematuritas, pengkonsumsian alkohol dan tembakau sang ibu, banyak terkena keterpaparan timbel. Deprivasi oksigen, yang mungkin mengarah kepada tidak cukupnya ketersediaan neurotransmitter dopamine. Akan tetapi, citra anak yang ADHD mengalamin kerusakan otak telah dibantah oleh studi pencitraan otak. Studi pebcitraan tersebut memang menyatakan anak dengan ADHD memiliki struktur otak yang biasa pada prefrontal cortex dan basa ganglia, daerah yang menahan impuls dan mengatur perhatian dan control di

Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder

Attention - Deficit / Hyperactivity Disorder           Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) diderita oleh sekitar 2 samapai 11 persen anak usia sekolah di seluuruh dunia dan 3 sampai 6 persen terdapat di AS., walaupun beberapa riset menyatakan penyebarannya tidak dapat diperkirakan. Gangguan tersebut ditandai oleh berkesinambungannya ketidakmampuan memperhatikan, tingkat ketertarikan terhadap gangguan ( distracbility ), impulsivitas, toleransi yang rendah terhadap frustasi, dan banyak aktivitas yang dilakukan  pada waktu dan tempat yang salah seperti di ruang kelas. Anak laki-laki memiliki kecenderungan empat kali lipat lebih besar daripada anak perempuan.           Gangguan ini memiliki dua rangkaian simtom yang berbeda. Sebagian anak tidak memperhatikan tetapi tidak hiperaktif sedangkan yang lain menunjukkan pola sebaliknya. Walaupun demikian, dalam 85% kasus, kedua perilaku tersebut muncul bersama. Karakteristik ini muncul hingga t

Gangguan Rett dan Gangguan Disintegratif

Gangguan Rett dan Gangguan Disintegratif           Menurut DSM-IV-TR, gangguan perkembangan pervasif terdiri dari gangguan autistik, gangguan asperger, gangguan rett dan gangguan disintegratif masa kanak-kanak.           Dalam tulisan dalam blog ini sebelumnya telah dijelaskan tentang gangguan autistic dan gangguan rett. Kali ini saya akan menjelaskan secara singkat tentang perbedaan antara gangguan rett dengan gangguan disintegratif.           Gangguan disintegratif di masa kanak-kanak terjadi pada anak-anak yang mengalami perkembangan normal pada dua tahun pertama usianya yang kemudian diikuti dengan hilangnya keterampilan sosial, bermain, bahasa, dan motorik secara signifikan. Abnormalitas dalam interaksi sosial dan komunikasi, dan munculnya perilaku stereotip sangat sama dengan yang terjadi pada autisme.           Sedangkan gangguan rett sangat jarang terjadi dan hanya terjadi pada anak perempuan. Perkembangan sepenuhnya normal hingga tahun p

Gangguan Asperger

Gangguan Asperger           Menurut DSM-IV-TR, gangguan asperper termasuk salah satu gangguan perkembangan pervasif yang tergolong dalam aksis 1. Gangguan asperger diyakini sebagai bentuk autisme ringan dimana hubungan sosial sangat kurang dan perilaku stereotip intens dan rigid, namun bahasa dan intelegensi tetap utuh. Perkiraan terbaru bahwa 6 dari 1.000 anak menyandang autisme, sedangkan yang paling sering adalah gangguan asperger  yang menginfeksi 1 dari 500 anak.           Anak dengan gangguan asperger biasanya memiliki kecerdasan verbal yang normal bahkan tinggi, memiliki rasa ingin tahu, dan dapat menyelesaikan tugas sekolah dengan baik; tetapi mereka memiliki ketertarikan yang terbatas dan baku, perkataan dan perilaku yang sering dilakukan berulang-ulang serta kesulitan untuk memahami sinyal sosial dan emosional.           Peningkatan jumlah anak yang sekarang didiagnosis mengidap asperger mungkin merupakan bagian dari meningkatnya standar

Enkopresis

Enkopresis           Enkopresis merupakan kurangnya kontrol terhadap keinginan buang air besar yang bukan disebabkan oleh masalah organik. Anak harus memiliki usia kronologis minimal 4 tahun atau pada anak-anak dengan perkembangan yang lambat, usia mentalnya minimal 4 tahun. Sekitar satu persen dari anak-anak usia 5 tahun mengalami enkopresis. Seperti halnya enuresis, gangguan ini lebih umum terjadi kepada anak laki-laki. Enkopresis jarang terjadi pada remaja usia pertengahan kecuali mereka yang mengalami retardasi mental yang parah. Soling (mengotori) dapat dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja dan bukan disebabkan oleh masalah organik. Faktor-faktor predisposisi yang mungkin diantaranya adalah toilet training yang tidak konsisten atau tidak lengkap dan sumber stress psikologis, seperti kelahiran saudara sekandung atau mulai bersekolah. Soling terjadi tidak seperti enuresis, lebih sering terjadi pada siang hari dibandingkan pada malam

Penanganan Sistem Alarm Urin untuk Anak Enuretik

Penanganan Sistem Alarm Urin untuk Anak Enuretik Penanganan sistem alarm urin adalah alat berupa lonceng dan bantalan untuk menghentikan mengompol yang diciptakan oleh O. H. Mowner dan W. M. Mowner pada tahun 1938. Diperkirakan 75% anak-anak enuretik mampu tidak mengompol sepanjang malam karena bantuan alat yang sangat sederhana ini.           Sebuah lonceng dan sebuah baterai yang tersambung dengan kabel ke sebuah bantalan yang terdiri dari dua lembar kertas metalik, lembar bagian atas berlubang-lubang, dan di antara kedua lembaran tersebut terdapat selapis kain penyerap. Bantalan tersebut dimasukkan ke dalam sarung bantal dan diletakkan di bawah tubuh si anak ketika tidur. Ketika tetesan pertama urine, yang berfungsi sebagai elektrolit, membasahi kain, sirkuit elektris akan tersambung di antara kedua lembar kertas. Tersambungnya sirkuit tersebut akan membunyikan lonceng atau alarm, yang segera membangunkan anak atau tidak lama setelah mengompol.

Penanganan Enuresis

Penanganan Enuresis           Penanganan rumahan untuk mengompol telah melebar luas dari sekedar membatasi asupan cairan, memakaikan diapers pada malam maupun siang hari, hingga menggantungkan bukti-bukti kesalahan, seperti seprei yang basah akibat ompol. Sebagian besar strategi semacam itu tidak efektif. Sama saja dengan menunggu hingga si anak dengan sendirinya tidak lagi mengalami masalah tersebut juga bukanlah tindakan yang memuaskan. Hanya sekitar 15% anak-anak enuretik berusia antara 5 hingga 19 tahun yang menunjukkan kesembuhan spontan dalam waktu satu tahun.           Terdapat dua macam penanganan yang paling banyak digunakan yang dirujuk oleh profesional adalah pemberian obat dan sistem alarm urin. Enuresis jika ditangani sejak dini maka berangsur-angsur gangguan ini bisa saja hilang dengan sendirinya. Peranan dari keluarga sangatlah penting, misalnya dengan cara-cara sederhana yang dapat digunakan bagi orang tua untuk menangani anak en